Complicated #1

by - February 02, 2017

Hasna membenamkan wajahnya ke bantal yang dicengkramnya dan terisak keras. Dalam hati dia amat menyesal. Dia amat menyayangi Haidar. Seharusnya dia tidak membiarkan Haidar pergi sore tadi. Seharusnya dia mengikuti kata hatinya, "Jika Haidar pergi, sesuatu yang buruk akan terjadi." meskipun tadinya Hasna sendiri tidak yakin.

Lihat apa yang terjadi. Haidar belum tiba di rumah, padahal sudah tengah malam. Ayah pergi menyusul Haidar––dan itu bukan sesuatu yang membuat rasa cemas dan khawatir Hasna berkurang, justru bertambah.

Selama tiga puluh menit, Hasna terus terisak. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Meskipun Hasna tidak tahu apa-apa tentang Haidar sekarang, rasanya dia melihat Haidar sedang dalam bahaya dengan pistol di belakang kepalanya yang siap meluncurkan peluru, dan Ayah yang datang menyusul malah menodong pistol kedua, bukannya menyelamatkan. Kau lihat, bahwa hubungan Ayah dan Haidar tidak begitu baik. Hasna selalu merasa Ayah siap membunuh Haidar kapan pun dia mau, dan membuat Hasna berpikir, tidak semua ayah menyayangi anak kandungnya sendiri.

Jauh dari rumah Hasna, Rama turun dari mobilnya. Dia menutup pintu mobil dengan kencang dan dengan langkah-langkah yang diberatkan, Rama menaiki tangga menuju pintu rumah yang besar itu. Rama mengepalkan tangannya dan meninju pintunya berkali-kali.

"HAIDAR! HAIDARR! KELUAR KAMU!!"

Yang di dalam rumah langsung merasa panik. Haidar ada di dalam sana, dia gemetar dan ketakutan. Temannya, Kiki, tak perlu mengintip siapa yang datang karena dia sudah tahu.

"Tenang, Dar," bisik Kiki, dia sendiri panik. "Lo bisa jelasin ke bokap lo, bahwa lo enggak lakuin semua ini. Oke?"

Haidar diam saja.

"Dar? Lo enggak 'papa kan?" bisik Kiki cemas. "Gue buka pintu sekarang ya?"

Haidar mengangguk dengan anggukan yang sangat kecil. Kiki menelan ludah, berjalan ke dekat pintu. Teriakan Rama terdengar lagi, "KELUARR!!"

Krek.
Pintu terbuka. Rama langsung masuk ke dalam, mendorong pintu semakin lebar hingga Kiki terdorong. Keringat dingin mengucur dari dahi Haidar yang berdiri terpaku ketakutan. Rama semakin dekat dengan Haidar.

"Ay-Ayah, Idang bis––!"
Plak. Rama menempeleng wajah Haidar dengan keras.
"ANAK GAK TAHU DIRI!!"
Suara Rama bergaung ke seluruh ruangan yang besar ini. Kiki kaget dan bimbang antara hendak menghentikan Rama atau diam saja di sini.

"Ayah, dengar Idang dul––"
Plak. Satu tamparan lagi.
"MAU JADI APA KAMU, HAH, DENGAN BERBUAT SEPERTI ITU??!!"
"Ayaah... salah..."

Bugg. Satu pukulan keras dengan satu kepalan tangan Rama melayang ke pelipis Haidar. Haidar terjatuh, kepalanya terbentur ujung meja berlapis kaca, yang menjatuhkan vas kaca di atasnya. Prangg. Vas itu jatuh ke wajah Haidar dan pecah belah menjadi berkeping-keping. Darah mengalir di luka-luka kecil wajah Haidar. Kiki tidak bisa menahan diri, dia pun menangis menyaksikannya.

Rama belum berhenti, ketika dia tahu bahwa Haidar masih kuat untuk bangkit kembali. Haidar kesakitan, mulutnya susah bergerak sehingga dia kesulitan menjelaskan. Dan Rama mengepalkan tangannya sekali lagi...

BUG. DUK. PRANGG!!!

"HAIDAAAAR...!!" Kiki berteriak ngeri.

Haidar sudah tak bernyawa, sementara darah mengalir di kepala bagian belakangnya. Kiki hanya bisa diam di tempat sambil menangis, sementara Rama tampak tidak ada raut penyesalan sedikitpun.

#

Pernah dengar kata "mimpi akan jadi kenyataan"? Apakah menurutmu hal itu benar-benar mungkin?
Bagi Hasna iya.

Sambil terisak dengan wajah menempel pada bantal, tangan lembut ibunya Anastasia mengelus rambutnya, sementara adiknya Firyal tertidur nyenyak di sampingnya, Hasna kembali mengingat mimpinya semalam.

Mimpi yang buruk––nightmare. Dalam mimpinya, Haidar melakukan sesuatu yang membangkitkan kemurkaan Ayah, dan bersembunyi di rumah teman dekatnya, Kiki. Ayah pergi mencarinya dan menemukannya, kemudian membunuhnya.

Hasna sangat sedih. Dia amat sangat menyayangi Haidar. Dia kakaknya satu-satunya, dan Haidar adalah kakak yang benar-benar baik. Entah kenapa Ayah melihat sosok Haidar sebagai musuh, padahal Haidar adalah anak kandungnya sendiri. Hasna tidak pernah tahu apa kesalahan Haidar yang Haidar lakukan sehingga Ayah membencinya.

Bahkan itu cuma mimpi. Seharusnya Hasna jangan tergantung pada mimpi, karena tak semua mimpi menjadi kenyataan. Tapi semakin Hasna percaya mimpi tersebut akan terjadi, semakin jelaslah mimpi berubah menjadi kenyataan itu.

Sore itu, setelah semalam mimpi tentang Haidar dibunuh...

"Kak Idang mau ke mana?"

Haidar menoleh memandang Hasna, yang berwajah sedih dan khawatir. Poni dan rambut Hasna yang dikucir kuda beriak di angin sepoi-sepoi. Suasana seperti drama.

"Eh, Hasna," kata Haidar tidak menjawab. "Cantik deh, hari ini dikucir begitu. Pasti nanti besarnya cantik banget."

Hasna tak menggubris kalimat itu.

"Kak Idang mau ke mana? Jawab Hasna, Kak."

"Mau ke rumah Bang Kiki," jawab Haidar berusaha tersenyum. "Hasna kenapa? Kok cantik-cantik tampangnya sedih begitu?"

Hasna menggigit bibirnya dan berkata setengah menangis, "Kak Idang jangan pergi..." Hasna teringat mimpinya. Dia tidak boleh membiarkan Haidar pergi malam ini. "Kak Idang di sini aja... Hasna butuh Kak Idang."

"Lho? Kenapa?"

"Kak Idang di sini aja." Hasna mengulangi tegas.

"Kakak harus pergi, Na. Kakak udah janjian."

"Kak Idang harus di sini malam ini!!"

Haidar kaget. Dia belum pernah dibentak adiknya yang ternyata keras kepala ini. Mata Hasna berkaca-kaca, bendungan air matanya tak bisa menahan lagi.

"Ada apa sih?" tanya Haidar pelan, cemas. "Kalau ada masalah, cerita sama Kakak. Kenapa? Ada masalah sama Ayah?"

Hasna menggeleng. Dia tahu sebaiknya Haidar mengetahui tentang mimpinya semalam. Hasna pun menceritakannya sambil terisak-isak, "Tadi malam, Hasna mim-mimpi, Kak... Ka-Kak Idang dib-bunuh sama A-Ayah. A-Ayah marah s-sama Kak I-Idang... Hasna enggak mau..."

"Apa?" tanya Haidar tidak mengerti. Dia semakin cemas. "Coba cerita dari awal."

"Hasna mimpi, Kak," kata Hasna masih terisak. "Kak Idang berbuat sesuatu yang bikin Ayah marah b-besar. Kejadiannya malam-malam. Ayah pergi nyari Kakak, pake mobil. Di mimpi, Kakak lagi sembunyi di rumah Bang K-Kiki... Terus Ayah datang... Ayah pukul––tampar, pukul-pukul Kak Idang sampai Kak Idang j-jatuh, kebentur ujung m-meja kaca––kepala belakang Kak Idang berdarah... terus... terus... Kak Idang... u-udah enggak hidup lagi..." Hasna menangis sejadi-jadinya.


Haidar merasa kasihan. Adiknya mengalami mimpi yang buruk, dan adiknya itu tampak yakin mimpi tersebut akan terjadi. Maksud Haidar, mana mungkin ada seorang ayah tega membunuh anaknya sendiri.

Tapi Haidar kurang yakin. Haidar sadar dia telah melakukan hal-hal yang memang membuat Ayah marah padanya, seperti membolos demi bertemu pacar; pergi ke bar dan mabuk––Haidar sadar betul akan hal ini, dia pun mengakui dirinya salah. Tapi Ayah memang tak pernah benar-benar mengampuninya... atau iya kah?

"Kak Idang..."

Haidar berhenti melamun. Dia memandang Hasna yang wajahnya memerah dan basah akibat menangis sekarang.

"Eh––Kakak benar-benar harus pergi, Hasna," kata Haidar pelan. "Itu cuma mimpi. Oke? Cuma mimpi aja. Dan sekarang, Kakak pergi dulu ya."

Hasna bimbang. Dia berkata tanpa berpikir dahulu, "Ya. Kak Idang bakal pulang kan? Kak Idang pulang jam berapa?"

"Delapan, kalau memungkinkan."

"Apa maksud Kakak memungkinkan?"

"Yaah... kalau hujan gimana? Kakak kan enggak bisa pulang jam delapan kalau pas jam delapan hujan deras?" Haidar nyengir.

Tapi Hasna tidak ikut nyengir. "Kakak harus janji. Kakak harus pulang... tanpa luka sedikit pun."

"Yaelah," gerutu Haidar bergurau. "Memangnya Kakak mau gelut sama Bang Kiki apa? Sini, deh."

Hasna mendekat, dan Haidar berlutut di tanah.

"Hasna," kata Haidar pelan. "Camkan ini baik-baik ya. Kakak sayang sama Hasna. Kakak bakal ngelakuin yang terbaik untuk Hasna. Dan kalau Hasna juga sayang sama Kakak, Hasna jangan bikin Kakak susah begini ya. Tuh, Kakak jadi telat ke rumah Bang Kiki." Haidar tersenyum.

Hasna hanya mengangguk.

Bagaimana bisa Hasna mengangguk saja? Hasna sangat menyesal sekarang. Seharusnya Haidar tetap di sini, malam ini. Meski Haidar pergi sore tadi, Hasna merasa malam ini adalah malam ke tujuh puluh dua setelah Haidar pergi. Haidar sudah terlalu lama pergi. Ini sudah pukul dua belas malam.

Satu jam yang lalu, Ayah baru pulang dari luar kota. Baru masuk rumah, Ayah sudah teriak-teriak pada Hasna, menanyakan kemana perginya Haidar. Hasna memberitahukan tentang rumah Kiki, teman Haidar. Ayah pun pergi naik mobil menyusul Haidar dengan amarah.

Hasna benar-benar takut mimpinya akan terjadi sungguhan.

Satu jam berlalu lagi. Suara mobil Ayah terdengar di luar. Hasna bangkit, berlari ke luar kamar disusul Ibu, meninggalkan Firyal yang tertidur. Di ruang tamu, Ayah menunduk––membuat perasaan Hasna jadi tidak enak.

"Ayah?" tanya Hasna gemetar. "M-Mana Kak Idang?"

Sesaat Ayah tak menjawab. Hasna menahan napasnya, sementara Ibu mendesah sedih. Kemudian...

"Haidar hilang," kata Rama sedih. "Ayah cari ke mana-mana, Hasna. Tapi kakakmu itu enggak ada di mana-mana."

"Rama," bisik Anastasia pilu. "Lapor polisi?"

"Kita belum pasti, Tasia," kata Rama geram. "Kita harus punya kepastian yang tepat untuk melapor pada polisi bahwa Haidar hilang. Siapa tahu besok Haidar sudah kembali––dengar, Tasia, aku perlu bicara sekarang. Ada yang harus kamu tahu tentang Haidar..."

"Apa?"

Rama dan Tasia melirik sosok kecil Hasna di tengah-tengah mereka yang sudah mulai menangis lagi. Mereka tidak tahu kalau Hasna punya rasa curiga besar bahwa Rama membunuh Haidar dan menyembunyikan jasadnya, meski Hasna tahu banyak hal menentang rasa curiganya ini. Dia menangis tanpa suara, berjalan ke kamar lagi.

Tasia menunduk dan memandang Rama.

"Ada apa tentang Haidar?" tanyanya pelan menahan napas sedih. "Rama, kamu enggak apa-apain dia kan... anakmu sendiri, kan..."

"Enggak," kata Rama tegas. "Tapi aku masih marah sama anak itu."

"Kenapa?" tanya Tasia mulai menangis. Hatinya pedih. Suaminya tidak menyayangi anaknya sendiri. Kapankah suaminya bisa menyayangi anak itu, Tasia tidak tahu. "Rama, apa kamu enggak sayang sama Haidar... ha?"

Kening Rama mengkerut, bagi Tasia menandakan Rama marah padanya. "Tadi waktu aku pulang baru sampai pagar, Stefi––anaknya Pak Reza datang. Kamu tahu dia ngomong apa sama aku, huh, Tasia?" katanya berang. "Si Stefi ini hamil anaknya Haidar!"

Layaknya pisau baru diasah menusuk dada Tasia.

"Astagfirullah!" jerit Tasia menangis. "Rama––kamu enggak percaya kata-kata gadis itu kan? Kamu tahu sendiri keluarganya bukan orang-orang yang baik... Stefi bohong, Rama... bilang sama aku... Stefi b-bohooong..."

"AKU ENGGAK BOHONG DAN STEFI JUGA ENGGAK!!" bentak Rama garang. Wajahnya merah. "Dia punya buktinya! Dia punya hasil kehamilannya yang positif! Dan usia kandungannya sudah hampir dua bulan!! Dengar aku, Tasia??!"

Tasia jatuh terpuruk. Dia menangis sejadi-jadinya. Tidak mungkin, tidak mungkin Haidar berani berbuat begitu... Stefi bohong... Tolong, kumohon, seseorang––siapa saja... katakan bahwa Stefi bohong karena dia memang tukang bohong... katakan, jika saja benar... bukan Haidar pelakunya...


Didengarnya suara Rama lagi, "Aku cari Haidar ke rumah Kiki. Orangtuanya bilang Kiki saja tidak ada di rumah, karena Kiki pergi ke Amerika untuk kuliah."


BERSAMBUNG

You May Also Like

0 komentar