Kisah Pendaftaran Shafia yang Rumit

by - June 24, 2017

Assalamu'alaikum, teman-teman. Malam ini Shafia kepengin cerita ke teman-teman cerita tentang kisah Shafia mendaftarkan diri ke calon sekolahnya Shafia, yaitu SMA favorit kota tempat tinggal Shafia. Rumit lho, jalan pendaftarannya. Klik keep reading ya

Males Berangkat
Jadi ceritanya tuh gini, pendaptarannya dibuka dari tanggal X sampai tanggal 14. Sejak tanggal X, Shafia sudah berkali-kali mencoba (ayahnya Shafia maksudnya) daftar online lewat internet, tapi tetep ga diterima terus, padahal ga ada masalah apa-apa sih. Shafia was-was kalau Shafia enggak diterima karena Shafia ga mencantumkan nama asal SMP, atau Shafia tidak terdaftar karena Shafia homeschooling, makanya tadinya Shafia jadi males
Pas tanggal 14, pas ayahnya Shafia lagi ada waktu untuk nganter Shafia ke SMA itu, Shafia males banget berangkat. Mana syaratnya Shafia harus pake seragam plus sepatu lagi; Shafia kan ga punya seragam, jelas-jelas homeschooling kok; Shafia juga ga punya sepatu :p
Dan begitu sampai sekolah, ada panitia (guru juga) nyuruh Shafia pake sepatu (oke, oke)

Panitia pun Tidak Mengerti
Waktu masuk ruang pendaftaran, Shafia disuruh ke ruang lab komputer untuk daftar online-nya. Di sana, Shafia (ayahnya Shafia ding) jelasin kalau daftar online di rumah ko gabisa T^T terus kata panitianya (masi anak SMA, ganteng pula *astagfirullah, istighfar, Sha*) coba aja dulu di sekolah ini. Terus Shafia coba lagi, masih gabisa. Si panitia bersama teman-teman sepanitia pun bingung bersama. Terus Shafia dianjurkan untuk konfirmasi masalah ini ke panitia-panitia para guru yang ada di ruang pendaftaran offline (yang sebelumnya menyuruh Shafia ke lab komputer). Akhirnya bolak-balik deh
Pas sampai di sana... hadeuh... ga ada satupun yang ngerti kenapa bisa gak terdaftar nama Shafia. Para panitia guru itu sempet tanya-tanya asal sekolah Shafia, terus pas jawab homeschooling, mereka bilang homeschooling itu bukan masalahnya. Makanya mereka ga ngerti. Akhirnya ada salah seorang staf menyarankan Shafia untuk datang ke SMK (whattss... saya maunya masuk SMA Buk, bukan eS-eM-Ka) SMK Blabla namanya *samaran* tempat dimana atasan seluruh panitia kota sedang berdiri dan bekerja, untuk mengorfirmasikan hal yang begitu memusingkan kepala ini T^T *crying-again

Nyasar ke SMK
Untung aja jarak dari SMA Shafia dan SMK Blabla itu tidak jauh, kalau enggak mungkin Shafia bakalan demam saat itu juga, soalnya cuacanya juga panas menyengat banget sih
Waktu di SMK Blabla itu, Shafia dan ayah Shafia harus mencari Pak A.B. *inisal aja*. Kami keliling SMK Blabla itu yang luasnya kayak istana aja. Lumayan sih, jadi kepikiran pengin daftar sini *hahaha* Lalu setelah ketemu, Shafia diberitahu apa masalahnya. Shafia harus memilih tahun lulusnya bukan 2017, melainkan 2016. Ga tau kenapa, Shafia enggak begitu mengerti, tapi pokoknya begitu. Akhirnya biar gak bolak-balik lagi kayak tadi, Shafia boleh daftar SMA lewat SMK. Hohooo... pengalaman yang langka. Girls-powerrr!! *ganyambung
Pas di ruang pendaftaran SMK Blabla itu, Shafia pun daftar, dibantu sama Mbak Cantik-nya, ngisi nama lengkap dst. Shafia kerepotan bacain Nomor Induk Shafia ke Mbak Cantik, kerepotan juga ngejain nama lengkap Shafia; Seizza Rahdianny Shafsafia Azzahra, gimana ga ribet? Dan HATI SHAFIA MAU HANCUR RASANYA pas begitu klik tombol "Lanjutkan", Shafia harus milih SMK, bukan SMA. Soalnya tadi salah masuk kategori... yaaah... diulang lagii hehe *tepok-jidat

Kelewat Bangga
Kemudian Shafia kembali lagi ke SMA itu. Capeknya, selain Shafia lagi puasa (hiks hiks, mana panas lagi *namanya juga ujian*), Shafia harus mengulang lagi daftar online-nya di SMA, gatau tuh kenapa... huhuu... Habis itu Shafia harus isi formulir ini-itu di ruangan W *lupa sih namanya apa*. Di ruangan W, Shafia pilih jurusan bahasa, karena Shafia mau fokus ke sastra (kan cita-cita Shafia jadi penulis. Amiiin...). Terus kan, katanya dianjurkan bawa piagam prestasi, Shafia kasih piagam kejuaraan Shafia ikut lomba menulis tingkat kota (Juara Satu lhoo...) sama buku novel karya Shafia yang pertama : KKPK Special Edition; The Special Girl (DAR!Mizan 2017). Guru-guru pada muji-muji, "hebat ya, jadi penulis..." "hebat ini" (ya iyalah, di kota kecil begini jarang ada penulis *somboooong*), terus dibawa ke ruang utama panitia, dipamer-pamerin sama panitia lainnya.. kelewat bangga deh, hati Shafia (gabisa ngendaliin diri ceritanya)
Eh, ujung-ujungnya, dua piagam prestasi itu ga bisa diterima (huaaaaaaa) soalnya piagam kejuaraan lomba menulis itu udah kadaluarsa (2014 lho) kendatipun ada cap dan tanda tangan langsung Perpustakaan Daerah. Sementara buku itu bukan termasuk piagam. Hiks, hiks... gapapa deh (kamu gak usah ketawa :D)

Tidak Menemukan Nama di List
Waktu pulang, Shafia langsung pening pusing pala barbie (ehh?), langsung gubrak deh di kasur. Pas bangun, hari dah sore, terus denger ibu sama ayahnya Shafia lagi ngomongin Shafia *nguping aaah*. Ternyata orangtua Shafia bilang kalau mereka tidak menemukan nama Shafia di list murid-murid yang diterima. Hoalahh... ibu Shafia keliatannya kecewa banget (katanya kan nilai Shafia itu termasuk yang tinggi, IPA aja bisa masuk, masa Bahasa enggak), padahal Shafia sih fine-fine aja, soalnya kan Shafia bisa ikut jalan homeschooling lagi. Hari itu Shafia ga bisa menghentikan kekecewaan ibunya Shafia dengan cuma mengatakan kalau Shafia itu enggak kecewa (Fia emang enggak kecewa sama sekali - non kecewa - ibuu...)

Diterima
Dua-tiga hari kemudian, ibunya Shafia ngotot pengin lihat website pendaftaran online (pas Shafia lagi nge-blog) untuk lihat list lagi. Katanya mau cari nama sepupu Shafia, yang kebetulan emang tahun lulusnya sama dan masuk ke SMA yang sama. Terus ibunya Shafia malah nemu nama Shafia di list murid jurusan Bahasa. Alhamdulillah... ternyata perjalanan yang serumit benang pabaliut itu berbuah juga. Hehe...

You May Also Like

3 komentar

  1. Good Luck kak, semoga betah di SMK-nya nanti, ok?
    :)

    ReplyDelete
  2. Aku udah pusing :" gak usah disuruh mikir, nge Blank lah kek anak ilang :V

    ReplyDelete